Menu

Mode Gelap
Headline

Kajian Islam · 10 Feb 2023 07:50 WIB ·

Khutbah Jumat: Iman Adalah Pengalaman


 seri Kutbah Jumat medikita.com Perbesar

seri Kutbah Jumat medikita.com

Yendri Junaidi, Lc., MA

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، فَاسْمَعُوْا قَوْلَ اللهِ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ :
وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (120)
وَقُلْ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنَّا عَامِلُونَ (121)

Allah Swt berfirman dalam al-Quran Surat Hud ayat 120 – 121 :

“Dan semua kisah-kisah Rasul itu Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu, dan di dalamnya telah diberikan kepadamu kebenaran, nasihat dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.
Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman, “Berbuatlah menurut kedudukanmu kami pun benar-benar akan berbuat.”

Dia juga berfirman dalam QS. al-‘Ankabuut ayat 1 – 3 :

الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)

Alif laam miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?
Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.

Kaum muslimin sidang jamaah Jumat yang berbahagia…

Kisah dalam Al-quran

Sepertiga dari al-Quran adalah kisah. Ketika mendengar kata kisah yang terbayang adalah sesuatu untuk hiburan atau selingan. Tapi apakah demikian halnya dengan kisah-kisah dalam al-Quran? Tentu tidak. Tidak mungkin sepertiga al-Quran hanya selingan.

Kisah-kisah itu sangat erat kaitannya dengan aqidah dan keimanan. Kisah-kisah tersebut menceritakan pengalaman banyak orang dalam kehidupan mereka menjadi seorang hamba Allah Swt.

Mulai dari kisah Nabi Adam yang digoda oleh Iblis hingga akhirnya keluar dari surga. Kisah kedua anaknya yang bertikai. Kisah Nabi Nuh yang berjuang menyeru kaumnya lebih kurang satu abad.

Kisah Nabi Ibrahim dengan penguasa zalim. Kisah Nabi Musa menghadapi Firaun. Kisah Nabi Isa dengan kaumnya. Bahkan ada juga ada kisah-kisah manusia biasa yang bukan nabi.

Kisah-kisah itu sebenarnya memberikan pesan utama, bahwa keimanan itu bukanlah semata pengakuan, bukan juga melakukan ibadah ritual harian atau menghafal nash-nash agama dan sebagainya. Keimanan itu sesungguhnya adalah pengalaman. Iman mesti dibuktikan dengan pengalaman.

“Apakah manusia mengira Kami akan biarkan mereka berkata: “Kami beriman” sementara mereka belum diuji?”

Sekarang mari kita tanya diri masing-masing. Sudah berapa lama kita menjadi muslim? Sudah sejak kapan kita mengaku beriman? Sudah berapa banyak pengalaman kita dalam beriman?

Dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita baru mengenal seseorang, kita baru tahu nama, asalnya, tempat tinggalnya dan beberapa hal lahir lainnya. Kita belum tahu sifat, karakter, pribadinya, apa yang disukainya, apa yang tidak disukainya dan sebagainya.

Namun seiring berjalan waktu, kita lebih bisa mengenalnya apalagi kalau kita sering bertemu dengannya karena satu tempat kerja misalnya. Kita juga mengalami banyak hal dengannya. Kadang akrab dan sangat dekat, kadang terasa jauh dan tidak sejalan. Semua itu membuat kita lebih akrab dengannya. Kita pun jadi tahu bagaimana sifat dan kepribadiannya. Apa yang disukainya dan apa yang tidak disukainya. Apa yang bisa membuat hubungan kita dengannya semakin dekat dan akrab dan apa yang bisa membuat hubungan kita dengannya jadi retak.

Yang perlu menjadi renungan kita sekarang adalah sudah sejak kecil kita dikenalkan dengan Allah Swt oleh orang tua kita, guru dan masyarakat. Kita pun mulai menyembah dan meyakini-Nya. Kita mau berletih-letih untuk beribadah pada-Nya; shalat, puasa, dan kita rela mengorbankan harta untuk menjalankan perintah-Nya; zakat dan haji.

Tapi pertanyaannya, sudahkah kita lebih mengenal-Nya dari hari ke hari? Anggaplah kita sudah dikenalkan dengan Allah sejak usia baligh; 15 tahun misalnya. Sekarang usia kita sudah mencapai 30, 40, 50 tahun atau bahkan lebih.

Berarti kita sudah ‘kenal’ dengan Allah selama 15, 20 dan bahkan ada yang selama 40 tahun.

Sudahkah dari hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun kita semakin mengenal Allah dan juga agama ini? Atau jangan-jangan ‘rasa’ beribadah kita ketika pertama kali shalat dulu tidak jauh beda dengan shalat kita hari ini? Tidak bertambah rasa nikmat, tidak ada dampak yang nyata dalam keseharian kita dan sebagainya. Atau malah ibadah kita dulu ketika masih remaja jauh lebih baik, khusuk, dan nikmat dibandingkan ibadah kita hari ini?

Pertanyaan berikutnya, sudah berapa pengalaman kita dalam beragama? Pernahkah kita diuji lalu kita lulus dalam ujian itu? Pernahkah kita merasakan berbagai ‘rasa’ dalam hubungan kita dengan Allah? Pernah kita pernah menangis karena rindu pada-Nya, berbahagia karena nikmat yang dilimpahkan-Nya, merasakan pahit sebuah perjuangan demi mengharapkan ridha-Nya?

Di sinilah sebuah keimanan akan diuji. Keimanan bukan sebuah pengakuan. Keimanan bukan sebuah hafalan. Keimanan tidak ditentukan dengan ketinggian ilmu agama. Boleh jadi seorang pedagang kaki lima jauh lebih beriman daripada seorang ustadz, kalau ternyata ia punya banyak pengalaman dalam ketaatan. Ia pernah diuji lalu lulus dalam ujian itu, misalnya.

Sayangnya, anggapan yang tertanam dalam pikiran kebanyakan kita adalah semakin beriman seseorang kalau ia semakin tahu tentang Islam. Orang dianggap semakin taat kalau ia semakin sering mendengar pengajian. Dan orang dianggap paling beriman ketika ia banyak memberikan pengajian dan ceramah. Bukan demikian sesungguhnya.

Iman akan tampak dalam ujian. Jika ia gagal dalam ujian maka keimanan yang digembar-gemborkannya adalah palsu. Mari lihat kualitas keimanan kita dari pengalaman keimanan dan ujian yang pernah kita lalui dan alami dalam kehidupan ini.

Bagaimana meraih iman yang hidup?
Pertama: keluarlah dari lingkaran rutinitas. Hayati setiap ibadah yang dilakukan.

Kedua: ciptakan warna sendiri untuk keimanan kita, bukan yang ditiru-tiru dari orang lain.

Ketiga: jadikan setiap pengalaman dalam hidup sebagai sarana memperdalam keimanan.

فاعتبروا يا أولى الألباب لعلكم تفلحون

Artikel ini telah dibaca 359 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Nilai Kontrol Syahwat Dalam Ibadah Puasa (2)

5 April 2023 - 11:46 WIB

Nilai Kontrol Syahwat Dalam Puasa Ramadan (1)

4 April 2023 - 14:18 WIB

Khutbah Jumat: Adil Dalam Menilai

17 Februari 2023 - 07:58 WIB

Khutbah Jumat: Al-Quran, Sudahkah Kita Pahami?

3 Februari 2023 - 07:00 WIB

Khutbah Jumat: Memahami Hakikat Beragama

11 November 2022 - 10:10 WIB

Khutbah Jumat: Kelapangan Syariat Penutup

4 November 2022 - 08:36 WIB

Trending di Kajian Islam