Menu

Mode Gelap
Headline

Opini & Tokoh · 1 Sep 2022 06:58 WIB ·

Anak dalam Perspektif Al Quran


 Anak dalam Perspektif Al Quran Perbesar

Prof.Dr.H.Asasriwarni MH
Guru Besar UIN IB
Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sumbar
Anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat

Anak adalah dambaan dan kebanggan setiap Ayah dan Bunda. Anak bisa sebagai pelipur lara, pelengkap keceriaan rumah tangga, penerus cita-cita, investasi, guru, partner, bahkan pelindung orang tua terutama ketika orang tua sudah berusia lanjut.

Tidak ada satu pun orang tua yang mengharapkan anaknya akan menyeretnya ke dalam Api Neraka. Mereka tentunya mendambakan dan mengharapkan anak-anaknya kelak bisa membahagiakannya, menjadi penyejuk hati dan pelipur lara, in syaa Allah.

Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah menjelaskan dengan gamblang tentang beberapa kategori anak bagi orang tuanya. Apa saja itu ?, marilah kita coba urai satu persatu secara singkat :

Anak Sebagai Perhiasan Bagi Orang Tua (ZIINATUN) :

Sebagaimana firman Allah SWT dalam ayat Al-Qur’an di bawah ini :

اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا

Harta dan anak-anak adalah _PERHIASAN_ kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan (QS. Al-Kahfi Ayat : 46)

Zinatun mengandung makna, bahwa dengan kehadirannya, dunia akan menjadi indah dan menjadi hiasan bagi kedua orang tuanya. Perhiasan yang dimaksud adalah dengan kehadiran anak tersebut, orang tua menjadi merasa sangat senang, bahagia dan bangga terhadap berbagai hal baik yang diperbuat oleh anak-anaknya, sehingga akan mengharumkan nama orang tua dalam kehidupan dunia.

Anak Sebagai Penyejuk Hati Orang Tua (QURROTA A’YUN)

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Ayat Al Qur’an di bawah ini :

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai PENYEJUK HATI (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al Furqon Ayat : 74)

Qurrotu A’yun adalah menyejukkan pandangan mata karena, anak tersebut senantiasa mempelajari huda (tuntunan Allah SWT) dan mengamalkannya dengan semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT. Hal itu dilakuan dengan maksud agar anak mampu berfungsi sebagai Qurrata a’yun (penyejuk hati kedua orang tuanya). Ini lah kedudukan anak yang terbaik bagi kedua orang tuanya.

Manakala ia dapat menyenangkan hati dan menyejukkan mata kedua orang tuanya. Mereka adalah anak-anak yang apabila ditunjukkan untuk beribadah, mereka segera melaksanakannya dengan suka cita dan ikhlas karena Allah semata.

Apabila diperintahkan belajar, mereka segera mentaatinya. Mereka juga anak-anak yang baik budi pekerti dan akhlaknya, ucapannya santun dan tingkah lakunya sangat terpuji serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.

Anak Sebagai Ujian atau Cobaan (FITNAH)

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an di bawah ini :

اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai UJIAN dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar (QS. Attaghobun Ayat : 15).

Fitnah adalah ujian yang bisa memalingkan orang tua dari ketaatan atau terjerumus dalam perbuatan maksiat. Anak, selain sebagai perhiasan dan penyejuk mata, juga bisa menjadi fitnah (ujian dan cobaan) bagi orang tuanya.

Sebagai amanah, anak bisa juga akan menjadi ujian bagi setiap orang tua. Oleh karena itu, orang tua harus senantiasa berhati-hati, janganlah sampai terlena dan tertipu sehingga melanggar perintah Allah SWT. Realitanya sering kita saksikan, para orang tua sibuk bekerja membanting tulang tak kenal lelah demi sang anak.

Mencurahkan segenap upaya demi kebahagiaan anak. Namun disisi lain, orang tua kadang-kadang melalaikan kewajibannya sebagai hamba Allah. Seperti shalat diujung waktu, lupa memperhatikan pergaulan, membimbing dan mengarahkan anak-anak.

Kelalaian tersebut bisa jadi akan menyebabkan anak terperosok dalam kemaksiatan dan pada akhirnya anak akan dapat menggelincirkan orang tua dari jalan kebenaran dan melalaikan akhirat.

Untuk itu, setiap orang tua selain wajib mengetahui perkara-perkara yang telah Allah SWT wajibkan kepada mereka, juga selalu membimbing dan mengarahkan anak-anaknya agar selalu menunaikan kewajibannya.

Anak Sebagai Musuh (ADUWWUN)

Kedudukan anak sebagi musuh inilah yang paling dikhawatirkan oleh setiap orang tua. Sebagaimana firman Allah SWT dalam ayat Al-Qur’an di bawah ini :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Hai orang-orang mu’min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi MUSUH bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. At-Taghaabun Ayat : 14)

Aduwwun (musuh orang tuanya) adalah anak yang melalaikan bahkan menjerumuskan orang tuanya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama. Ayat diatas menjelaskan ketika anak menjadi sebab kedurhakaan dan kemungkaran bagi orang tuanya.

Mungkin kita sering mendengarkan tak sedikit orang tua yang melakukan apa saja (tanpa harus melihat halal atau haram) untuk anak dan keluarganya. Atau mungkin disaat anak memaksa untuk memenuhi kebutuhannya namun orang tua belum sanggup secara ekonomi maka menjadikan orang tuanya melakukan perbuatan terlarang demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit anak yang berseteru kepada orang tuanya. Sebagai contoh, orang tua yang diperkarakan oleh anaknya akibat perebutan harta warisan, anak yang menuntut hal berlebihan diluar kesanggupan orang tuanya bahkan sampai ada yang tega mencelakai orang tuanya, Na’udzubillah.

Dari 4 macam kedudukan anak dalam Al-Qur’an di atas, tentu sebagai orang tua menginginkan anak-anaknya termasuk ke dalam kategori qurrota a’yun.Namun, untuk mencapainya diperlukan ketekunan dan konsistensi dalam berupaya untuk mewujudkannya, selain itu doa yang selalu mengalir dari hati orangtuanya. Seyogyanya, orang tua senantiasa mampu memposisikan diri sebagai figure/teladan bagi anak-anaknya.

Jika orangtuanya rajin shalat berjama’ah, maka anak pun akan mudah diajak untuk shalat berjama’ah. Jika orang tua senantiasa berbicara dengan sopan dan lembut, maka anak-anak mereka pun akan mudah menirunya.

Selain itu, orang tua hendaknya selau memperhatikan pergaulan anak-anaknya di dalam masyarakat. Mengingat pergaulan juga memiliki adil yang tidak kecil terhadap perkembangan kepribadian serta akhlak anak-anak kita.

Orang tua hendaknya memberikan anak pendidikan tak hanya berjenjang pada pendidikan dunia yang tinggi, namun jangan pernah lengah memberikan dan menanamkan nilai-nilai dan ilmu keagamaan untuk anak-anak sedari kecil. Sebagaimana firman Allah SWT dalam ayat Al-Qur’an di bawah ini :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan (QS. Almujadilah Ayat : 11).

Semoga kita semua selalu diberi kekuatan dan kemudahan dalam mendidik dan mengarahkan anak-anak kita menjadi qurrota a’yun. Sehingga anak-anak kita akan menjadi penyejuk hati, dan pembawa kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Aamiin.

Artikel ini telah dibaca 49 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Melawan Diskriminasi, Mengukir Masa Depan Jurnalis Kompeten

4 September 2023 - 16:00 WIB

Kenapa PDIP Ngotot Dengan Sistem Pemilu Proporsional Tertutup?

11 Februari 2023 - 17:19 WIB

Momentum 1 Abad, Kebangkitan NU dan Jam’iyyah

7 Februari 2023 - 07:24 WIB

77 Tahun Kemenag, Tantangan di Era Digitalisasi

2 Januari 2023 - 18:17 WIB

Perbankan Syariah di Lingkungan Masyarakat Minangkabau

12 Desember 2022 - 16:54 WIB

Fiqih Peradaban Negara dan Bangsa Bagi Warga Nahdliyin di Minangkabau (4)

7 November 2022 - 13:24 WIB

Trending di Opini & Tokoh