NETWORK : RakyatPos | ValoraNews | Kupas Online | TopSumbar | BanjarBaruKlik | TopOne | Kongkrit | SpiritSumbar | Basangek | MenaraInfo | Medikita | AcehPortal | MyCity | ReportasePapua | RedaksiPos | WartaSehat
Khutbah Jumat: Adil Dalam Menilai - Medikita.com

Menu

Mode Gelap
Pernah Tersandung Kasus Hukum, Irman Gusman Gagal Nyalon DPD? Camat Banda Raya Lantik Pj Keuchik Gampong Mibo Sah, Dokter Reza Arsalan Dilantik Sebagai Kepala Puskesmas Termuda Se-Aceh Selatan Jelang Tahapan Kampanye Pemilu 2024, KIP Kota Banda Aceh Sosialisasikan PKPU Kampanye dan PKPU Dana Kampanye Undang Prof Muhadam Labolo, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP USK Selenggarakan Kuliah Tamu

Kajian Islam · 17 Feb 2023 07:58 WIB ·

Khutbah Jumat: Adil Dalam Menilai


 seri Kutbah Jumat medikita.com Perbesar

seri Kutbah Jumat medikita.com

Yendri Junaidi, Lc., MA

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، فَاسْمَعُوْا قَوْلَ اللهِ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ :
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ (سورة الحديد : 25)

Allah Swt berfirman dalam al-Quran Surat al-Hadid ayat 25 :

“Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan necara (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Dan Kami menciptakan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan banyak manfaat bagi manusia, dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong agama-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa.”

Kaum muslimin sidang jamaah Jumat yang dirahmati Allah…

Dalam bahasa arab adil berarti keseimbangan. Dalam sebuah ungkapan misalnya, “Kedua daun timbangan ini sudah adil,” artinya keduanya sudah sama berat dan seimbang. Dari sini dapat disimpulkan bahwa setiap ketidakseimbangan yang terjadi dalam kehidupan ini disebabkan karena keadilan sudah hilang.

Keadilan tidak hanya masalah yang berkaitan dengan hukum atau kekuasaan. Adil juga menjadi bahasan utama dalam akhlak.

Seorang filosof Yunani terkenal, Aristoteles, mengatakan bahwa inti dan pondasi semua akhlak mulia adalah keadilan (keseimbangan). Para pakar akhlak muslim juga mengatakan hal senada. Mereka mengatakan bahwa akhlak mulia adalah perwujudan dari sebuah keseimbangan.

Akhlak dermawan adalah titik tengah antara dua tepi yang saling bertentangan; boros dan pelit.

Keberanian adalah tengah-tengah antara nekat dan pengecut. Rendah hati adalah tengah-tengah antara kesombongan dan rendah diri atau minder.

Secara umum ada dua jenis keadilan; keadilan dalam ranah hukum (berkaitan dengan hak dan kewajiban) dan keadilan dalam ranah akhlak.

Rasa keadilan itu sudah fitrah dalam diri manusia. Anak kecil yang sedang bermain lalu kawannya berbuat curang, ia akan protes dan tidak terima karena ia merasa dizalimi dan tidak ada keadilan.

Adil bisa juga diartikan dengan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Adil juga berarti melakukan sesuatu dalam bentuk yang kita ingin orang melakukannya terhadap kita.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad, seorang sahabat bernama Muadz bertanya kepada Rasulullah Saw, “Bagaimana iman yang paling utama?” Rasulullah Saw menjawab:

أَنْ تُحِبَّ لله وَتُبْغِضَ لله وَتَعْمَلَ لِسَانَكَ فيِ ذِكْرِ اللهِ

“Engkau mencintai karena Allah, membenci karena Allah dan engkau selalu menggunakan lidah untuk berdzikir kepada-Nya.”

Ia bertanya lagi, “Lalu apa lagi ya Rasulullah?”

Rasulullah Saw bersabda:

وَأَنْ تُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ وَتَكْرَهَ لَهُمْ مَا تَكْرَهَ لِنَفْسِكَ

“Engkau sukai untuk orang lain apa yang engkau sukai untuk dirimu sendiri dan engkau benci untuk manusia apa yang engkau benci untuk dirimu sendiri.”

Kita diperintahkan oleh Allah Swt untuk selalu berlaku adil. Dalam surat an-Nahl ditegaskan bahwa Allah memerintahkan kita untuk berlaku adil.

Adil di sini mesti dipahami dalam makna yang luas, bukan sekedar adil dalam pengertian membagi sama rata menimbang sama berat, tapi juga adil dalam akhlak.

Diantara keadilan yang mesti kita miliki adalah adil dalam menilai orang lain. Apa maksud adil dalam menilai? Maksudnya adalah menilai secara objektif, tidak berdasarkan rasa suka atau tidak suka, tapi berdasarkan pertimbangan rasional.

Dalam surat al-Maidah ayat 2, Allah Swt berfirman:

… وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا …

“Jangan sampai kebencianmu kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil Haram mendorongmu berlaku zalim pada mereka…”.

Siapa yang dimaksud dalam ayat ini? Kaum musyrikin. Maksudnya, kebencian kamu kepada perilaku orang-orang musyrik jangan sampai membuat kamu tidak adil dalam menilainya.

Kalau ada sisi baik dari mereka sampaikan. Bukan ditutup-tutupi. Jangan sampai sikap buruk mereka membuat kamu memandang jelek pada seluruh perbuatan mereka.

Dalam hal ini sebuah pepatah arab mengatakan:

وعين الرضا عن كل عيب كليلة وعين السخط تبدي المساوي

Rasa suka membutakan mata dari segala kekurangan
Rasa benci membuka mata pada semua keburukan

Cara pandang seperti ini menunjukkan kondisi jiwa dan pikiran yang sangat berbahaya, yaitu fanatis. Mestinya, kabek jan dibuhua mati, arek-arek lungga, tagang-tagang kandua.

Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan ketika menilai orang lain:

Pertama: lihatlah semua kebaikan dan keburukan seseorang secara seimbang dan objektif.

Kedua: jangan terpengaruh dengan pandangan-pandangan orang lain.

Ketiga: jika Anda suka maka sukalah sekedarnya saja. Jika Anda tidak suka maka tidak sukalah sekedarnya saja. Jangan berlebihan.

فاعتبروا يا أولى الألباب لعلكم تفلحون

Artikel ini telah dibaca 418 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Nilai Kontrol Syahwat Dalam Ibadah Puasa (2)

5 April 2023 - 11:46 WIB

Nilai Kontrol Syahwat Dalam Puasa Ramadan (1)

4 April 2023 - 14:18 WIB

Khutbah Jumat: Iman Adalah Pengalaman

10 Februari 2023 - 07:50 WIB

Khutbah Jumat: Al-Quran, Sudahkah Kita Pahami?

3 Februari 2023 - 07:00 WIB

Khutbah Jumat: Memahami Hakikat Beragama

11 November 2022 - 10:10 WIB

Khutbah Jumat: Kelapangan Syariat Penutup

4 November 2022 - 08:36 WIB

Trending di Kajian Islam