NETWORK : RakyatPos | ValoraNews | Kupas Online | TopSumbar | BanjarBaruKlik | TopOne | Kongkrit | SpiritSumbar | Basangek | MenaraInfo | Medikita | AcehPortal | MyCity | ReportasePapua | RedaksiPos | WartaSehat
Khutbah Jumat: Al-Quran, Sudahkah Kita Pahami? - Medikita.com

Menu

Mode Gelap
Pernah Tersandung Kasus Hukum, Irman Gusman Gagal Nyalon DPD? Camat Banda Raya Lantik Pj Keuchik Gampong Mibo Sah, Dokter Reza Arsalan Dilantik Sebagai Kepala Puskesmas Termuda Se-Aceh Selatan Jelang Tahapan Kampanye Pemilu 2024, KIP Kota Banda Aceh Sosialisasikan PKPU Kampanye dan PKPU Dana Kampanye Undang Prof Muhadam Labolo, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP USK Selenggarakan Kuliah Tamu

Kajian Islam · 3 Feb 2023 07:00 WIB ·

Khutbah Jumat: Al-Quran, Sudahkah Kita Pahami?


 seri Kutbah Jumat medikita.com Perbesar

seri Kutbah Jumat medikita.com

Yendri Junaidi, Lc., MA

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، فَاسْمَعُوْا قَوْلَ اللهِ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ قُلْ إِنَّ اللَّهَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنَزِّلَ آيَةً وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (37) وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ (38)

Dan mereka berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mukjizat dari Tuhannya?” Katakanlah, “Sesungguhnya Allah berkuasa menurunkan suatu mukjizat, tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.” (QS. al-An’aam ayat 37 – 38).

Kaum muslimin jamaah Jumat yang berbahagia..

Ayam di lumbuang padi mati kelaparan. Itiak baranang di tabek mati kehausan.

Barangkali ini peribahasa yang tepat untuk menggambarkan interaksi kita sebagai muslim dengan al-Quran. Betapa banyak masalah yang kita hadapi dalam kehidupan ini. Mulai dari masalah sosial, politik, pendidikan, kepmimpinan, dan sebagainya.

Tapi kemana kita mencari solusi dan jawaban dari berbagai masalah itu? Apakah kepada al-Quran? Ternyata tidak. Kita mencarinya dari sumber-sumber yang lain; baik Timur maupun Barat. Seolah kita tidak memiliki sumber yang dapat diandalkan.

Masalah pendidikan misalnya. Kemana rujukan para guru? Ada yang ke Barat ; Finlandia, Kanada, Rusia dan sebagainya. Ada yang ke Timur ; Jepang, China, dan sebagainya. Masalah pemikiran juga demikian. Kemana kiblat para intelektual dan pemikir kita? Barat.

Kenapa ini terjadi? Apa yang menyebabkan tokoh-tokoh kita lebih merujuk kepada yang lain daripada sumber yang ia miliki yang jauh lebih hebat?

Ada beberapa penyebabnya;

Pertama, gengsi dan ingin terlihat keren. Ada kesan bahwa mengutip pendapat tokoh-tokoh Barat tampak ilmiah ilmiah dan keren daripada mengutip tokoh-tokoh muslim. Menukil dari referensi-referensi Barat tampak lebih ‘wah’ daripada menukil dari al-Quran dan Sunnah.

Kedua, realitanya memang kita harus mengakui bahwa dalam banyak bidang kita sebagai muslim jauh tertinggal dari orang lain. Padahal kita punya harta karun yang tak ternilai; Al-Quran. Betapa banyak pemikir dan tokoh-tokoh Barat yang terkesima dan tercengang ketika mengetahui bahwa apa yang mereka cari selama ini ternyata ada dalam al-Quran dan itu disampaikan dengan sangat simpel.

Tak jarang terjadi, ketika seorang muslim mengutip pendapat tokoh Barat, ternyata tokoh itu sendiri mendapatkan inspirasinya dari al-Quran. Hanya saja ia bisa mengemas dengan baik dan menyajikannya secara bagus.

Ada seorang pendeta yang begitu fanatik kepada agamanya; Kristen. Ia diajarkan kalau seseorang ingin mencapai kebahagiaan yang mutlak, ia mesti meninggalkan semua bentuk kesenangan duniawi.

Ini jelas bertentangan dengan fitrah manusia yang memiliki syahwat. Tapi karena ini yang diajarkan oleh agamanya ia patuh saja. Tapi batinnya berontak. Sampai akhirnya ia temukan bahwa di dalam Islam semuanya sangat seimbang dan proporsional.

Ada seorang pebisnis Jepang yang memiliki semangat tinggi dalam bekerja. Falsafah yang dianutnya adalah bahwa ia harus berhasil. Jika tidak, maka yang salah adalah dirinya dan untuk itu ia mesti siap mengorbankan apa saja untuk menebus kesalahan itu, bahkan pun membunuh dirinya.

Sampai pada suatu ketika, ia menemukan bahwa di dalam Islam tidak ada istilah bahwa setiap usaha mesti berhasil. Di dalam Islam ada ajaran yang disebut dengan tawakkal, dan ini yang memberikan kedamaian yang luar biasa terhadap dirinya.

Semua prinsip dan ajaran yang luar biasa itu ada pada kita; ada dalam al-Quran kita. Tapi sayangnya kita sering mengabaikannya dan tidak menyadari sama sekali permata berlian yang kita miliki.

Ketiga, yang sangat disayangkan adalah kita sebagai muslim banyak yang malas untuk mengkaji dan meneliti. Kita cenderung menunggu penelitian orang lain. Baru setelah itu kita akan berkata, “Ooo, semua itu sudah ada di dalam Islam. Al-Quran sudah membicarakannya 14 abad yang silam.”

Kita selalu datang belakangan. Contoh terakhir adalah sebuah penelitian yang dilakukan di Jerman tentang dampak menonton video porno terhadap perkembangan otak.

Penelitian itu menyimpulkan bahwa seseorang yang sering menonton video porno, otaknya akan mengecil. Mengecil dalam arti yang sebenarnya, tidak hanya metafora. Hal ini sebenarnya sudah diisyaratkan dalam QS. an-Nuur ayat 30 :

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang-orang beriman untuk menjaga pandangan mereka dan memelihara kehormatan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Kata أَزْكَى “suci” terambil dari kata zakah yang berarti berkembang atau tumbuh. Berarti, orang yang menjaga pandangannya dirinya (termasuk otaknya) akan berkembang dan tumbuh. Secara eksplisit ini menunjukkan bahwa orang yang melepaskan pandangannya pada hal-hal yang kotor maka dirinya (termasuk otaknya) akan kecil, rendah, kerdil dan hina.

Mari kembali pada al-Quran. Kita kaji setiap ayatnya dengan serius dan mendalam. Kita koreksi berbagai pemahaman kita yang salah melalui ayat-ayat al-Quran.

Contoh sederhana, bagaimana gambaran kematian dalam pikiran kita? Apakah sudah selaras dengan apa yang dijelaskan dalam al-Quran bahwa ia adalah sakarat yang berarti mabuk?

فاعتبروا يا أولى الألباب لعلكم تفلحون

Artikel ini telah dibaca 281 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Nilai Kontrol Syahwat Dalam Ibadah Puasa (2)

5 April 2023 - 11:46 WIB

Nilai Kontrol Syahwat Dalam Puasa Ramadan (1)

4 April 2023 - 14:18 WIB

Khutbah Jumat: Adil Dalam Menilai

17 Februari 2023 - 07:58 WIB

Khutbah Jumat: Iman Adalah Pengalaman

10 Februari 2023 - 07:50 WIB

Khutbah Jumat: Memahami Hakikat Beragama

11 November 2022 - 10:10 WIB

Khutbah Jumat: Kelapangan Syariat Penutup

4 November 2022 - 08:36 WIB

Trending di Kajian Islam