NETWORK : RakyatPos | ValoraNews | Kupas Online | TopSumbar | BanjarBaruKlik | TopOne | Kongkrit | SpiritSumbar | Basangek | MenaraInfo | Medikita | AcehPortal | MyCity | ReportasePapua | RedaksiPos | WartaSehat
Khutbah Jumat: Islam Itu Sederhana - Medikita.com

Menu

Mode Gelap
Pernah Tersandung Kasus Hukum, Irman Gusman Gagal Nyalon DPD? Camat Banda Raya Lantik Pj Keuchik Gampong Mibo Sah, Dokter Reza Arsalan Dilantik Sebagai Kepala Puskesmas Termuda Se-Aceh Selatan Jelang Tahapan Kampanye Pemilu 2024, KIP Kota Banda Aceh Sosialisasikan PKPU Kampanye dan PKPU Dana Kampanye Undang Prof Muhadam Labolo, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP USK Selenggarakan Kuliah Tamu

Kajian Islam · 7 Okt 2022 07:00 WIB ·

Khutbah Jumat: Islam Itu Sederhana


 seri Kutbah Jumat medikita.com Perbesar

seri Kutbah Jumat medikita.com

Yendri Junaidi, Lc., MA

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ ، أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، فَاسْمَعُوْا قَوْلَ اللهِ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا (136) سورة النساء

Kaum muslimin sidang jamaah Jumat yang berbahagia…

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Semua kita tahu itu. Tapi apa buktinya kalau Islam adalah agama yang rahmat bagi semesta alam? Diantara buktinya adalah Islam itu sangat simpel, sederhana, mudah dan bisa dimasuki oleh siapa saja.

Analogi

Mari kita berikan sedikit analogi. Ada organisasi bernama Persatuan Wartawan Indonesia atau disingkat PWI. Apakah para dokter bisa menjadi anggotanya? Tidak. Ada juga organisasi bernama Ikatan Dokter Indonesia (IDI), apakah wartawan bisa menjadi anggotanya? Tentu tidak. Ada persatuan ASN (Aparatur Sipil Negara), apakah karyawan swasta bisa masuk? Tidak. Semua sudah ada kotak-kotaknya.

Ini berbeda dengan Islam yang merupakan rumah besar bagi semua manusia. Karena itu, ajarannya sangat sederhana dan simpel. Untuk bisa masuk ke dalam agama mulia ini tidak diperlukan syarat-syarat khusus selain meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah.

Kemudian seseorang mesti meyakini apa yang disebut dengan rukun iman. Berapakah rukun iman itu? Hanya enam saja. Keenam rukun iman ini tidak ada yang bertentangan dengan fitrah, akal sehat dan nurani setiap manusia selama ia waras. Karena itu, Islam sangat mudah diterima oleh siapa saja. Karena itu pula ia layak disebut sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin.

Ketika orang-orang kampung datang kepada Nabi SAW dan bertanya tentang Islam, Nabi mengajarkan mereka tentang Islam dalam waktu yang sangat singkat. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim berikut ini:

عن طَلْحَةَ بْنَ عُبَيْدِ اللَّهِ، يَقُولُ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرَ الرَّأْسِ، يُسْمَعُ دَوِيُّ صَوْتِهِ وَلاَ يُفْقَهُ مَا يَقُولُ، حَتَّى دَنَا، فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنِ الإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي اليَوْمِ وَاللَّيْلَةِ». فَقَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ: «لاَ، إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ». قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَصِيَامُ رَمَضَانَ». قَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ؟ قَالَ: «لاَ، إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ». قَالَ: وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ، قَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ: «لاَ، إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ». قَالَ: فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ: وَاللَّهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلاَ أَنْقُصُ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ»

 

Dari Thalhah bin Ubaidullah ra, ia berkata: “Seorang laki-laki dari Najd datang menemui Rasulullah Saw. Rambutnya acak-acakan. Ia bergumam tidak jelas. Sampai kemudian ia mendekat ke Rasulullah. Ternyata ia bertanya tentang Islam. Rasulullah Saw menjelaskan: “(Islam itu) lima shalat sehari-semalam.” Ia bertanya, “Apakah ada kewajiban yang lain untukku?” Rasulullah Saw menjawab: “Tidak, kecuali kalau engkau mau melakukan yang sunnah.” Rasulullah Saw melanjutkan, “Dan berpuasa di bulan Ramadhan.” Ia bertanya, “Apakah ada yang lain?” Rasulullah Saw menjawab: “Tidak, kecuali engkau mau melakukan yang sunnah.” Rasulullah Saw melanjutkan, “Dan membayar zakat.” Ia bertanya, “Apakah ada yang lain?” Rasulullah Saw menjawab: “Tidak, kecuali kalau engkau mau menambah dengan yang sunnah.”

Laki-laki itu kemudian berpaling sambil berkata: “Demi Allah, aku tidak akan menambah, tapi tidak juga mengurangi.” Mendengar itu Rasulullah Saw bersabda: “Ia beruntung jika ia jujur.”

Perbedaan

Tapi kemudian ketika terjadi fitnah di masa Sayyiduna Utsman bin Affan, berlanjut ke masa Sayyiduna Ali, bermuncullah berbagai aliran dan mazhab, baik yang bercorak ideologis maupun pemahaman fiqih. Muncullah Murji`ah, Khawarij, Syi’ah, dan sebagainya. Kemunculan berbagai kelompok ini sangat dipengaruhi oleh pertikaian berbagai pihak di masa itu, antara yang mendukung Utsman, Ali, dan Muawiyah.

Celakanya, pertikaian antar kelompok itu menyerempet ke masalah-masalah akidah. Akibatnya, akidah Islam yang sangat simpel dan sederhana di dalam al-Quran seakan berubah menjadi rumit, ribet dan memusingkan. Beberapa kelompok ada yang menambah rukun iman yang semula hanya enam dan sederhana menjadi begitu banyak dan rumit. Syiah, misalnya, mengatakan bahwa iman seseorang tidak diterima sampai ia meyakini bahwa seluruh imam ahlul bait yang berjumlah 12 orang adalah ma’shum.

Apakah ini ada di dalam al-Quran? Tidak. Kelompok yang lain ada yang menjadikan masalah apakah al-Quran itu makhluk atau tidak sebagai sebuah ukuran akidah yang benar. Ada juga yang menjadikan masalah Imam Mahdi sebagai salah satu rukun iman.

Ini yang membuat masalah iman dan tauhid yang sesungguhnya sangat simpel dan mudah dicerna oleh siapa saja, menjadi rumit dan memusingkan. Ibarat air, semakin jauh dari sumbernya air itu akan semakin kotor.

Suatu kali, Imam Amru bin Murrah al-Jumali didatangi seorang laki-laki. Ia berkata: “Aku datang ingin minta petunjuk. Aku telah masuk ke dalam berbagai firqah (kelompok). Tak satupun kelompok yang aku masuki melainkan ada ayat al-Quran yang dijadikannya sebagai pijakan. Dan tidaklah aku keluar dari satu kelompok melainkan ada juga ayat al-Quran yang dijadikan sebagai pijakan. Akhirnya aku berada dalam kebingungan.”

Imam Amru bin Murrah bertanya, “Engkau bersumpah demi Allah bahwa engkau tidak datang kepadaku melainkan untuk meminta petunjuk?”

Laki-laki itu berkata, “Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, aku datang padamu hanya untuk meminta petunjuk.”

Melihat kesungguhan laki-laki itu, Imam Amru bin Murrah mulai mengajaknya berpikir.

“Dari yang engkau lihat, apakah mereka (berbagai kelompok itu) berbeda tentang Muhammad adalah utusan Allah dan seluruh ajaran yang dibawanya adalah benar?” ia menjawab, “Tidak.”

“Apakah mereka berbeda bahwa al-Quran adalah kitabullah?”

“Tidak.”

“Apakah mereka berbeda bahwa agama Allah adalah Islam?”

“Tidak.”

“Apakah mereka berbeda bahwa Ka’bah adalah kiblat bersama?”

“Tidak.”

“Apakah mereka berbeda bahwa shalat yang wajib itu adalah lima?”

“Tidak.”

“Apakah mereka berbeda bahwa Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan berpuasa?” “Tidak.”

“Apakah mereka berbeda bahwa dari setiap dua ratus dirham ada lima dirham yang wajib dizakatkan?”

“Tidak.”

“Apakah mereka berbeda bahwa mandi junub itu wajib?”

“Tidak.”

Kemudian ia membaca ayat:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ

“Dialah yang telah menurunkan padamu al-Kitab. Diantaranya ada ayat-ayat muhkamat, itulah induk al-Kitab. Sementara yang lain ada ayat-ayat mutasyabihat…”

Lalu ia bertanya pada laki-laki itu, “Tahukah engkau apa yang dimaksud dengan muhkam?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak.”

Muhkam adalah segala sesuatu yang disepakati. Sementara mutasyabih adalah segala sesuatu yang diperselisihkan. Kuatkan tekadmu untuk berpegang pada yang muhkam dan hindari terlalu mendalami yang mutasyabih.”

Setelah mendengarkan nasehat berharga itu, laki-laki tersebut berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah membimbing diriku padamu. Demi Allah, sekarang aku lega.”

 

فَاعْتَبِرُوْا يَا أُولِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

 

Artikel ini telah dibaca 89 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Nilai Kontrol Syahwat Dalam Ibadah Puasa (2)

5 April 2023 - 11:46 WIB

Nilai Kontrol Syahwat Dalam Puasa Ramadan (1)

4 April 2023 - 14:18 WIB

Khutbah Jumat: Adil Dalam Menilai

17 Februari 2023 - 07:58 WIB

Khutbah Jumat: Iman Adalah Pengalaman

10 Februari 2023 - 07:50 WIB

Khutbah Jumat: Al-Quran, Sudahkah Kita Pahami?

3 Februari 2023 - 07:00 WIB

Khutbah Jumat: Memahami Hakikat Beragama

11 November 2022 - 10:10 WIB

Trending di Kajian Islam