Menu

Mode Gelap
Tahukan Anda Apa Itu Shalat? Ingat, Ini Tanda Anda Mengidap Kolesterol Tinggi, Jangan Anggap Enteng Khutbah Jumat: Melemparkan Kesalahan Pada Orang Lain Tips Liburan ke Bromo, Solo Travelling ala Backpacker Lebih Seru! Sah! Sandy Walsh dan Jordy Amat Jadi WNI, Siap Tampil Melawan Curacao?

Kajian Islam · 23 Sep 2022 07:54 WIB ·

Khutbah Jumat: Melemparkan Kesalahan Pada Orang Lain


 seri Kutbah Jumat medikita.com Perbesar

seri Kutbah Jumat medikita.com

Yendri Junaidi, Lc., MA

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، فَاسْمَعُوْا قَوْلَ اللهِ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ :
قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ فِي النَّارِ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا حَتَّى إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآَتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَكِنْ لَا تَعْلَمُونَ (38) وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ (39) سورة الأعراف

Allah berfirman: “Masuklah kamu ke dalam api neraka bersama golongan jin dan manusia yang telah lebih dahulu dari kamu. Setiap kali suatu umat masuk, dia melaknat saudaranya, sehingga apabila mereka telah masuk semuanya berkatalah orang yang (masuk) belakangan (kepada) orang yang (masuk) terlebih dahulu, “Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami. Datangkanlah siksaan api neraka yang berlipat ganda kepada mereka.” Allah berfirman, “Masing-masing mendapatkan (siksaan) yang berlipat ganda, tetapi kamu tidak mengetahui.” Dan orang yang (masuk) terlebih dahulu berkata kepada yang (masuk) belakangan, “Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikitpun atas kami. Maka rasakanlah azab itu karena perbuatan yang telah kamu lakukan.” QS. al-A’raaf ayat 38 – 39.

Ayat diatas menceritakan kondisi di akhirat nanti dimana setiap kelompok melaknat dan melemparkan kesalahan pada kelompokm yang lain. Mereka menganggap bahwa penyebab mereka masuk neraka adalah karena disesatkan dan ditipu oleh orang lain.

Karena itu mereka meminta pada Allah agar azab untuk orang-orang yang telah menyebabkan mereka masuk neraka itu dilipat gandakan. Tapi Allah SWT menegaskan bahwa azab untuk setiap kelompok sudah ditentukan.

Apa yang dapat kita tarik dari dialog para penghuni neraka tersebut? Ada satu sifat sangat negatif yang mereka miliki, yaitu suka melemparkan kesalahan pada orang lain, tidak mau mengakui kesalahan sendiri dan lari dari tanggung jawab.

Anak yang masuk neraka akan menyalahkan orang tua, kenapa dulu orang tuanya tidak mendidiknya agama? Orang tua yang masuk neraka juga menyalahkan anaknya, gara-gara anaknya yang sangat manja dan banyak minta ia terpaksa mencuri, korupsi dan mengambil harta yang bukan haknya.

Suami yang masuk neraka menyalahkan isterinya. Gara-gara isterinya minta yang macam-macam akhirnya ia terpaksa berlaku curang demi mendapatkan keuntungan. Isteri juga menyalahkan suami yang tidak membimbingnya dengan baik.

Umat yang masuk neraka akan menyalahkan ulamanya kenapa tidak dibimbing dan diajarkan agama dengan baik. Ulama yang masuk neraka juga akan menyalahkan umatnya, gara-gara mempertahankan nama baik di depan mereka ia terpaksa menjawab berbagai pertanyaan mereka tanpa dasar keilmuan yang kuat agar wibawanya tidak berkurang di mata mereka.

Begitulah kira-kira yang terjadi di akhirat nanti antara penduduk neraka. Mari kita bertanya pada diri masing-masing, perlukah kita menunggu hari kiamat untuk melihat sikap penduduk neraka itu muncul? Ternyata tidak. Dari sekarang pun kita sudah melihat itu semua. Semua menyalahkan orang lain. Semua tidak mau mengakui bahwa ia ikut bersalah. Semua menganggap diri bersih dan tak bersalah.

Dalam berbagai masalah, misalnya banyak pengangguran, hubungan di luar nikah menjamur, angka pembunuhan meningkat, kalau ditanya siapa yang bertanggung jawab terhadap semua itu? Semua melemparkan kesalahan pada orang lain.

Kata masyarakat, ini adalah salah pemerintah yang tidak becus mengurus negara ini. Kata pemerintah, ini tanggung jawab para ulama dan tokoh masyarakat yang seharusnya lebih berperan membina umat dan anggota masyarakat.

Para ulama dan tokoh masyarakat juga menyalahkan pemerintah dan orang tua yang seharusnya lebih pandai mendidik anak-anak mereka.

Kalau semua melemparkan kesalahan pada orang lain lalu sebenarnya siapa yang bersalah? Kenapa kita tidak berani mengatakan, “Saya mengakui bahwa saya adalah bagian dari masalah dan saya siap bertanggungjawab.”

Sebuah perbaikan dimulai dengan keberanian untuk mengarahkan tuduhan kepada diri sendiri. Barangkali ada yang berkata, “Yang menganggur anak orang lain, yang berzina orang lain, kenapa pula saya yang merasa bersalah?”

Pertanyaan ini bisa diterima kalau kita menganggap bahwa manusia adalah hewan yang tidak punya hubungan dan komunikasi satu sama lain. Tapi untuk masyarakat manusia pertanyaan ini tidak dapat diterima.

Kenapa? Karena manusia adalah makhluk sosial. Apapun kesalahan yang Anda lakukan, meskipun terlihat sepele, karena Anda adalah bagian dari masyarakat maka kesalahan Anda akan berdampak pada orang lain.

Misalnya, Anda berkata kotor. Kata kotor ini didengar oleh orang lain. Maka perkataan kotor ini langsung berdampak pada orang lain. Kalau orang lain itu termasuk yang juga suka berkata kotor maka ia merasa mendapat teman. Akhirnya ia akan terus berkata kotor.

Dari satu orang menjadi dua orang dan akhirnya tersebar di masyarakat. Akibatnya, masyarakat pun terbiasa mendengar perkataan kotor. Akan hilanglah kepekaan dan kepedulian untuk menegurnya.

Jika orang yang mendengar kata kotor Anda adalah orang yang tidak terbiasa berkata kotor, maka perkataan kotor Anda akan tetap berdampak pada dirinya. Hati orang itu akan terganggu dan terkotori karena mendengar kata kotor dari Anda.

Karena hatinya terganggu, maka ini berdampak pada interaksinya dengan anak dan isterinya. Ketika pulang ke rumah ia melihat anaknya bertengkar dengan adiknya. Karena hatinya sudah tercemari akibat mendengar kata kotor tadi maka ia langsung saja marah pada anaknya atau bahkan menamparnya. Melihat itu isterinya tidak terima dan akhirnya minta cerai.

Ini baru kesalahan satu orang, dan dari orang biasa. Bagaimana kalau orang itu adalah tokoh dalam masyarakat, atau orang yang punya pengaruh dan orang yang biasa bicara di depan orang banyak.

Kesimpulannya, apapun masalah dalam masyarakat, besar atau kecil, kita harus menyadari bahwa kita adalah bagian dari masalah dan mesti bertanggungjawab.

Ketika kita sudah menyadari hal ini maka kita baru bisa berpikir, “Kalau memang saya ikut bertanggung jawab apa yang mesti saya lakukan?” Dan kalau pertanyaan ini sudah muncul dengan jujur dari hati masing-masing, maka kita bisa berharap ada perbaikan dalam tubuh masyarakat.

Kita berikan dua contoh kecil. Kalau kita bertanya kepada para Ulama, Ustadz dan Buya, “Bagaimana kondisi umat saat ini?” Jawaban yang sering kita dengar adalah umat sudah jauh dari agama, masjid lengang, mereka lebih suka menonton televisi daripada mendengar pengajian, dan sebagainya.

Memang, inilah kondisi umat kita saat ini. Tapi apakah cukup sampai disini? Kalau cukup sampai di sini berarti sang ustadz hanya bisa melemparkan kesalahan kepada orang lain. Tapi kalau ia mau jujur dan berani, ia seharusnya mengatakan: “Barangkali kesalahannya juga ada pada saya dan ustadz-ustadz yang lain. Bahasa yang kami gunakan untuk mengajak masyarakat masih terdengar kasar.

Kami hanya bisa berteriak-teriak di mimbar tapi ternyata apa yang kami lakukan sehari-hari tidak sesuai dengan apa yang kami ucapkan, dan masyarakat melihat hal itu. Jadi sebenarnya saya juga ikut bersalah terhadap kondisi umat saat ini.”

Kalau demikian apa solusinya? “Saya mesti memperbaiki diri terlebih dahulu sebelum meminta orang untuk berubah. Saya mesti merubah gaya bahasa dan cara berdakwah pada masyarakat. Saya mesti berusaha mengamalkan terlebih dahulu apa yang saya sampaikan di mimbar sebelum meminta masyarakat mengamalkannya.”

Para orang tua, kalau ditanya tentang perangai anak-anak sekarang apa jawaban mereka? “Anak-anak sekarang nakal-nakal, berbeda dengan masa kami dulu. Mereka tak mau dinasehati, tak mau diajari. Ciek awak kicek sapuluah jaweknyo.”

Baik. Itu memang kondisi anak-anak sekarang. Tapi cukupkah sampai di sana? Kalau cukup, berarti para orang tua hanya bisa melemparkan kesalahan pada anak dan menganggap diri sudah bersih.

Sebaiknya para orang tua berpikir, kenapa anak-anak saya menjadi nakal seperti ini? Kenapa mereka sulit untuk dinasehati? Kenapa mereka begini dan begitu? Kita yakin bahwa ketika mereka lahir mereka tidak pernah membawa perangai yang negatif itu.

Itu mereka dapatkan dari lingkungan dan media. Berarti pola pendidikan kita yang tidak tepat. Kita tidak menjaga dan menyaring apa saja yang boleh masuk ke mata dan telinga mereka. Dan ini artinya orang tua mesti merasa bersalah dan bertanggung jawab melihat perangai dan akhlak anak-anak mereka. Dari sinilah sebuah perubahan bisa diharapkan.

Kenapa orang suka melemparkan kesalahan pada orang lain? Karena itu lebih mudah. Yang berat itu adalah mengarahkan tuduhan dan kesalahan pada diri sendiri. Karena ini berarti, “Saya harus bertanggung jawab, saya mesti berusaha memperbaiki diri.”

Kedua, setiap orang merasa dirinya bersih. Ia tidak menjadi bagian dari masalah. Dan ini adalah pola pikir Iblis. Iblis ketika diusir dari surga apa katanya? “Wahai Tuhan, karena Engkau telah membuatku tersesat maka aku akan goda anak cucu Adam.” Yang salah dia tapi dia justeru menyalahkan Allah.

Ini berbeda dengan Nabi Adam, nenek moyang kita para manusia. Ketika ia memakan buah khuldi karena digoda oleh Iblis, apakah ia menyalahkan Iblis? Tidak. Ia berkata: “Rabbana zhalamna anfusana…” Ya Tuhan kami, kami telah zalim terhadap diri sendiri.” Ketika ia menyalahkan diri sendiri dan mengakui bahwa ia yang bersalah, Allah pun mengampunkannya.

فاعتبروا يا أولى الألباب لعلكم تفلحون

Artikel ini telah dibaca 70 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Tahukan Anda Apa Itu Shalat?

24 September 2022 - 12:34 WIB

Khutbah Jumat: Antara Harap dan Takut

16 September 2022 - 06:48 WIB

Wahai Para Lelaki, Anda Mesti Faham Apa Itu Haid, Nifas dan Istihadhah

15 September 2022 - 09:00 WIB

Khutbah Jumat: Adab Dalam Menegur

9 September 2022 - 08:17 WIB

Shiratal Mustaqim dan Segala Problematikanya

4 September 2022 - 10:02 WIB

Khutbah Jumat: Itu Kenapa Ia Disebut Jihad Akbar

2 September 2022 - 07:00 WIB

Trending di Kajian Islam