Menu

Mode Gelap
Tahukan Anda Apa Itu Shalat? Ingat, Ini Tanda Anda Mengidap Kolesterol Tinggi, Jangan Anggap Enteng Khutbah Jumat: Melemparkan Kesalahan Pada Orang Lain Tips Liburan ke Bromo, Solo Travelling ala Backpacker Lebih Seru! Sah! Sandy Walsh dan Jordy Amat Jadi WNI, Siap Tampil Melawan Curacao?

Kajian Islam · 12 Agu 2022 07:00 WIB ·

Kutbah Jumat: Antara Ghaib dan Nyata


 seri Kutbah Jumat medikita.com Perbesar

seri Kutbah Jumat medikita.com

Ustaz Yendri Junaidi, Lc, MA.

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ ، أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، فَاسْمَعُوْا قَوْلَ اللهِ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (105)

 

“Katakanlah, “Beramallah kamu, niscaya Allah akan melihat amalanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Kelak kamu akan dikembalikan kepada Zat Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia sampaikan padamu apa saja yang telah kamu kerjakan.”

Bayangkan Anda tinggal di Padang, ingin pergi menyilau atau bersilaturrahmi dengan kerabat yang tinggal di Jakarta atau Medan; anak, kakak, sepupu dan sebagainya.

Ketika Anda akan berangkat, apakah Anda akan membawa bekal dan persiapan seadanya saja? Apakah Anda tidak mempersiapkan bekal selama berada di rumah kerabat itu?

Orang yang berpikiran jernih akan tetap mempersiapkan bekal terbaik yang ia bisa. Kenapa demikian? Apakah ia tidak yakin bahwa selama berada di rumah kerabatnya itu, apalagi kalau itu anak kandungnya, mereka pasti akan menanggung seluruh kebutuhannya selama di sana. Lalu kenapa tetap membawa bekal? Jawabannya: untuk kehati-hatian.

Jangankan itu. Anggaplah Anda mendapat undangan dari Bapak Presiden untuk menginap beberapa hari di istana negara. Dalam undangan itu telah dicantumkan bahwa segala keperluan Anda mulai dari berangkat, selama berada di ibu kota dan sampai pulang nanti, sudah ditanggung dan disiapkan oleh pihak istana. Bahkan Anda juga akan mendapatkan uang belanja tambahan.

Meski sudah demikian, apakah Anda akan pergi ke Jakarta dengan baju yang melekat di badan saja? tentu tidak. Anda akan mempersiapkan segala sesuatu.

Apakah ini artinya Anda tidak mempercayai surat dari Presiden? Tidak. Ini adalah bentuk kehati-hatian dan kewaspadaan untuk menghadapi hal-hal yang tidak terduga.

Demikianlah seorang yang cerdas dan berpikiran jernih. Mesti selalu berhat-hati dalam kondisi apapun.

***

Kita semua akan pergi ke sebuah alam yang sama sekali asing bagi kita. Kita semua akan mati. Kita semua akan melalui fase-fase dan tahapan-tahapan yang tidak pernah kita kenal sama sekali. Kita belum pernah mengalami itu sebelumnya. Orang yang ke sana pun juga tidak ada yang pernah kembali untuk menceritakan pada kita apa yang ditemui dan dirasakannya.

Bahkan untuk memberi tahu kita melalui mimpi atau cara yang lain pun tidak ada. Kita juga yakin bahwa kalau kita butuh apa-apa dalam perjalanan itu, tidak ada orang yang bisa kita mintai pertolongan. Kita juga yakin bahwa sekali kita memasuki alam itu, kita tidak akan pernah bisa kembali.

Bukankah seharusnya untuk menempuh perjalanan seperti ini kita mesti mempersiapkan bekal yang luar biasa? Bukankah untuk alam yang tidak dikenal seperti ini kita seharusnya lebih waspada dan menyiapkan apa yang mungkin bisa dipersiapkan?

Untungnya, meskipun alamnya serba tidak dikenal, kita telah diberikan informasi dan diberitahu apa yang mesti kita persiapkan. Kita tidak perlu mempersiapkan bekal yang berat-berat. Kita tidak perlu bawa uang yang banyak untuk cadangan. Kita tak perlu siapkan emas dan perak. Bekal yang perlu kita siapkan adalah taqwa.

***

Apa itu taqwa? Definisi taqwa yang paling baik adalah: ada ketika Allah menyuruh dan tidak ada ketika Allah melarang. Allah perintahkan kita shalat, kita ada. Allah perintahkan kita puasa, kita ada. Allah larang kita berlaku zalim, kita tidak ada. Allah larang kita bergunjing, kita tidak boleh ada.

Penjelasan ini dapat diterima oleh akal sehat dan bisa masuk ke dalam hati. Tapi pertanyaannya, kenapa semua itu tidak berubah ke dalam perbuatan nyata? Kenapa pengetahuan kita tentang hari akhirat tidak membuat kita menyiapkan bekal yang cukup untuk menghadapi hari itu? Bukankah aneh, kita yakin dengan hari akhir, kita yakin dengan kematian karena memang setiap hari kita melihat dan mendengar tentang kematian, tapi kita tidak menyiapkan bekal terbaik untuk menghadapi hari itu?.

Kita tenggelam dalam hidup keseharian yang kadang tanpa makna. Hidup kita terjebak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pagi sudah bersiap untuk bekerja, siang letih, sore pulang ke rumah dan malam menonton televisi di rumah bersama keluarga. Begitulah rutinitas kita. Begitu setiap hari. Pernahkah kita berpikir, apakah semua ini bisa menjadi bekal untuk menghadapi hari esok yang tidak jelas itu? Apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi hari itu?

Buya Hamka pernah berkata: “Kalau hidup hanya untuk hidup maka kera pun juga hidup. Kalau hidup hanya untuk bekerja maka sapi pun juga bekerja.”

Hidup kita mesti berbeda dan memiliki makna. Hidup kita tidak boleh hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok semata. Bagaimana caranya agar hidup tidak sekedar hidup? Hidup bukan sekedar untuk bekerja? Jadikan semua itu bekal untuk menghadapi hari esok.

Bagaimana caranya?

Pertama, tunaikan semua kewajiban yang telah Allah embankan kepada kita, dan itu jauh lebih sedikit dari waktu yang kita punya untuk melakukan hal-hal yang lain.

Kedua, jauhi dan tinggalkan semua larangan.

Ketiga, apapun aktivitas kita, selalu mulai dan awali dengan niat dan doa agar semua menjadi ibadah yang diterima oleh Allah SWT.

Si A bekerja di kantor. Si B juga bekerja di kantor yang sama. Keduanya melakukan jenis pekerjaan yang sama. Di akhir bulan keduanya mendapat gaji yang sama. Tapi apakah keduanya mendapatkan kebahagiaan yang sama? Tidak.

Si A selalu bersemangat dalam kerjanya dan puas dengan gaji yang diterimanya. Ia menganggap kerjanya adalah ibadah, bukan sekedar memenuhi tuntutan atasan atau kantor. Jauh berbeda dengan si B yang kerja asal-asalan, tidak merasa puas dengan gaji yang diterima dan tidak pernah memandang kerja sebagai ibadah. Meskipun secara kasat mata keduanya tampak sama, tapi secara batin mereka jelas berbeda.

Makna di balik aktivitas yang kita lakukan. Itulah yang ingin kita capai. Dengan demikian, hidup kita tidak hanya sekedar hidup, tapi hidup yang bermakna. Kerja kita bukan sekedar memenuhi kebutuhan hidup tapi untuk ibadah dan kepuasan batin. Inilah hidup orang yang beriman. Sebagaimana dalam ayat di atas Allah mengatakan: beramallah, bekerjalah, niscaya Allah akan melihatnya.

 

فَاعْتَبِرُوْا يَا أُولِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Tahukan Anda Apa Itu Shalat?

24 September 2022 - 12:34 WIB

Khutbah Jumat: Melemparkan Kesalahan Pada Orang Lain

23 September 2022 - 07:54 WIB

Khutbah Jumat: Antara Harap dan Takut

16 September 2022 - 06:48 WIB

Wahai Para Lelaki, Anda Mesti Faham Apa Itu Haid, Nifas dan Istihadhah

15 September 2022 - 09:00 WIB

Khutbah Jumat: Adab Dalam Menegur

9 September 2022 - 08:17 WIB

Shiratal Mustaqim dan Segala Problematikanya

4 September 2022 - 10:02 WIB

Trending di Kajian Islam