Menu

Mode Gelap
KPU Resmi Menutup Pendaftaran Partai Calon Peserta Pemilu 2024, 24 Partai Dinyatakan Lengkap Firdaus Firman Kadis Kominfo Solsel, Diganjar IJTI sebagai Penyampai Informasi Terbaik Inilah Kelebihan dan Kekurangan Pendidikan Inklusif, Wajib Tahu! (Bagian 10 dari 10) Mengenal Rabab Alat Kesenian Tradisional Populer Minangkabau Final Piala AFF U-16, Sejumlah Tokoh Nasional Prediksi Kemenangan Timnas Indonesia atas Vietnam

Kajian Islam · 4 Agu 2022 12:01 WIB ·

Pemetaan Bahasan Ilmu Fikih


 Pemetaan Bahasan Ilmu Fikih Perbesar

Oleh:

Ustaz Fakhry Emil Habib

Fikih Islam meliputi seluruh kehidupan manusia, mencakup hubungannya dengan tuhannya dalam bab ibadah, hubungannya dengan dirinya sendiri dalam bab ibadah, muamalah dan tazkiyah [1], serta hubungannya dengan lingkungan dan masyarakat di sekitarnya dalam bab muamalah, kekeluargaan, kenegaraan, pengadilan serta pidana, tergantung sudut pandang. Hal inilah yang mempengaruhi kurikulum fikih yang disusun oleh ulama.

Saya (Prof. Dr. Muhammad al-Zuhaili) membagi buku ini (kitab ak-Mu’tamad) menjadi enam bab, di setiap bab terdapat beberapa subbab, terkadang ada bab yang mengandung pasal, dan ada pula pasal yang memiliki pembagian pembahasan lagi. Permasalahan yang memiliki kesamaan disatukan, agar mudah dipahami.

Format pembahasan umum kitab fikih ini adalah sebagai berikut :

Bab Satu : Taharah, Ibadah serta Hal-hal terkait lainnya.

Di dalamnya terdapat tujuh subbab, yaitu 1. taharah, 2. salat, 3. hukum jenazah, 4. zakat, 5. puasa, 6. haji dan umrah dan 7. ibadah-ibadah lainnya. Pembahasan ini ada pada jilid I dan II.

Bab Dua : Muamalah [2]

Di dalamnya terdapat 20-an subbab, yaitu 1. Jual-beli, 2. Qardh[3], 3. Hibah, 4. âriyah[4] 5. Sewa-menyewa, 6. Musaqâh[5] 7. Muzâra’ah[6]8. Sayembara, 9. Qarâdh[7], 10. Mudhârabah[8] 11. Perkongsian, 12. Perwakilan, 13. Pegadaian, 14. Pemasungan, 15. kepailitan, 16. Perdamaian, 17. Pemindahan utang, 18. Penggantian, 19. Penjaminan, 20. Penarikan kongsi terhadap aset, 21. Penggarapan tanah kosong, 22. Wakaf, 23. Penitipan, 24. Barang temuan, 25. Anak terlantar, 26. Perlombaan dan panahan. Pembahasan ini ada pada jilid III.

Bab Tiga: Hukum Keluarga.

Pembahasan ini mencakup kajian pernikahan seperti nafkah, gana-gini dan ketidakpatuhan pasangan. Juga mencakup perceraian seperti rujuk, khuluk, sumpah untuk tidak menggauli istri, sumpah untuk mengharamkan istri sebagaimana mahram (zihâr), lian, idah, penyusuan, macam-macam nafkah, pemeliharaan anak dan permasalahan nasab. Kemudian kajian wasiat, dan terakhir kajian faraid dan hukum pewarisan. Pembahasan ini ada pada jilid IV.

Bab Empat: Jihad

Pembahasan ini mencakup hukum jihad, gencatan senjata, rampasan perang, daerah taklukan, tawanan perang, jizyah dan kepemimpinan (imâmah) terbesar.

Bab Lima: Pidana

Pembahasan ini mencakup kisas, diat, hudud, takzir dan sumpah.

Bab Enam: Pengadilan

Pembahasan ini mencakup aturan peradilan, pelayangan tuduhan, pengakuan, persaksian, sumpah atas tuduhan, pengangkatan hakim dan sumpah atas pembelaan. Tiga bab terakhir ini ada pada jilid V.

Semoga Allah selalu memberikan taufik dan pertolongan-Nya. Hanya kepada-Nya kita bertawakal. Mudahmudahan Allah berikan kemudahan dan keberkahan dalam amal ini insyaallah.

***
Mengetahui pemetaan bahasan sangat diperlukan agar setiap kita memiliki target yang jelas saat mempelajari suatu cabang ilmu. Ini agar proses belajar dapat dilalui secara sistematis, tidak ada kajian yang telangkaui ataupun diulang berkali-kali.

Ketiadaan pemetaan ini merupakan kelemahan belajar via majlis taklim ataupun online. Sepintar apapun seorang guru, segigih apapun seorang murid, jika proses belajar tidak memiliki kurikulum maka ilmu tidak
akan menancap meskipun berkahnya tetap ada. Makanya Syaikh Alawi bin Ahmad as-Saqqaf menjadikan adanya kurikulum (dilambangkan dengan kitab sahih muktamad) sebagai satu dari empat rukun ilmu di dalam kitab beliau, al-Fawaid al-Makkiyah.

Silakan perhatikan sekeliling, betapa banyak ibu-bapak yang begitu gemar mengikuti majlis taklim, bahkan hingga bertahun-tahun, tetapi permasalahan simpel seperti najis-najis yang dimaafkan, syarat-syarat muazin dan jenis-jenis harta yang wajib dizakatkan tidak mampu mereka jelaskan. Lain hal dengan pemuda yang belajar di pesantren, punya kegigihan untuk belajar.

Meskipun secara subjektif, dai majlis taklim lebih hebat dari pada ustad di pesantren, keilmuan anak didik ustad tidak akan kalah dibandingkan produk majlis taklim manapun, karena ketiadaan rukun ilmu ini di majlis taklim: kitab sahih yang bisa dijadikan pegangan kurikulum ajar.
***

Catatan kaki.
[1]. Dalam pembahasan ini bermakna hukum fikih yang tidak berkaitan dengan orang lain.
[2]. Dalam hal ini yang berkaitan dengan harta
[3]. Akad pinjam meminjam, dimana barang yang dipinjam dengan yang dikembalikan adalah barang yang berbeda
dengan jenis yang sama. Akad ini berlaku pada pinjam-meminjam uang, beras dan lain-lain.

[4]. Akad pinjam meminjam, dimana barang yang dipinjam itulah yang dikembalikan. Akad ini berlaku pada peminjaman benda seperti motor, rumah, dan lain-lain.
[5]. Akad pemeliharaan tanaman antara pemilik kebun dengan petani.
[6]. Akad penanaman lahan antara pemilik tanah dengan petani.
[7]. Akad peminjaman uang untuk usaha.
[8]. Akad investasi.

Artikel ini telah dibaca 25 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Bersiwak (bagian 2); Alat yang Bisa Dipakai untuk Bersiwak

15 Agustus 2022 - 07:00 WIB

Hukum Bersiwak

14 Agustus 2022 - 10:35 WIB

Adab-adab Beristinja (Bagian 2)

13 Agustus 2022 - 07:00 WIB

Adab-adab Istinja

12 Agustus 2022 - 07:07 WIB

Kutbah Jumat: Antara Ghaib dan Nyata

12 Agustus 2022 - 07:00 WIB

Aturan-Aturan Beristinja

11 Agustus 2022 - 07:00 WIB

Trending di Kajian Islam