Menu

Mode Gelap
KPU Resmi Menutup Pendaftaran Partai Calon Peserta Pemilu 2024, 24 Partai Dinyatakan Lengkap Firdaus Firman Kadis Kominfo Solsel, Diganjar IJTI sebagai Penyampai Informasi Terbaik Inilah Kelebihan dan Kekurangan Pendidikan Inklusif, Wajib Tahu! (Bagian 10 dari 10) Mengenal Rabab Alat Kesenian Tradisional Populer Minangkabau Final Piala AFF U-16, Sejumlah Tokoh Nasional Prediksi Kemenangan Timnas Indonesia atas Vietnam

Kajian Islam · 2 Agu 2022 10:13 WIB ·

Meneladani Kehidupan Nabi Muhammad Saw


 Meneladani Kehidupan Nabi Muhammad Saw Perbesar

Oleh: Armaidi Tanjung (pemerhati sosial)

Bagi umat beragama Islam, nama Nabi Muhammad Saw. adalah tokoh sentral dalam hidupnya. Karena sebagai rukun Islam, mengucapkan dan menyakini kalimat syahadat Asyhadu an laa ilaaha  illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah (Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah) adalah wajib. Kalimat tersebut merupakan pengakuan terhadap keyakinan ketuhanan dan kemuliaan Nabi Muhmmad Saw.

Selain itu, penganut agama Islam yang taat menjalankan perintah shalat, minimal dalam sehari semalam mengucapkan kalimat  Muhammad Saw. sebanyak 33 kali melalui bacaan shalatnya. Jika melaksanakan shalat sunat dua rakaat, maka bertambah lagi lima kali membaca  Muhammad Saw. Begitu seterusnya. Belum lagi dalam panggilan azan dan qamat menjelang shalat, nama  Muhammad Saw. juga dikumandangkan. Jika diperhatikan lebih seksama dengan perputaran bumi, pergantian waktu yang terus berjalan, maka tidak pernah berhenti mulut manusia mengucapkan nama  Muhammad Saw. dimuka bumi ini. Sungguh, sungguh luar biasa.

Walau demikian,  umat Islam yang menjadikan Muhammad Saw. sebagai suri tauladan, junjungan, pemimpin, panutan dan menyampaikan salawat serta salam,  pertanyaannya adalah sejauhmana memahami perjalanan hidup dan perjuangan beliau dalam mengembangkan Islam di jazirah Mekah, berikut di Madinah? Sebagai umat yang jauh berabad-abad hidup setelah Nabi  Muhammad Saw. wafat, tentu satu-satunya jalan adalah menggali dan membaca riwayat hidup  Muhammad Saw. Dengan membaca riwayat sejarah kehidupan  Muhammad Saw. akan memudahkan kita mengetahui dan memahami bagaimana sesungguhnya perjuangan kehidupan  Muhammad Saw. dalam mensyiarkan agama Islam.

Penulis sering mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa yang berjumlah kisaran 20 hingga 50 orang. Pertanyaan yang diajukan, berapa rata-rata umur saudara sekarang? Mereka umumnya menjawab kisaran 19 hingga 23 tahun. Pertanyaan berikutnya, apakah semua saudara beragama Islam? Jawabnya, ya Islam. Kalau iya, sudahkah saudara membaca buku (kitab) riwayat Nabi Muhammad Saw. yang halamannya berkisaran 400 hingga 600 halaman. Bukan buku riwayat 25 Nabi dan Rasul yang halamannya tak sampai 200 halaman. Hampir semua mahasiswa tersebut tidak ada yang dengan tegas menjawab, sudah membacanya. Dari hasil observasi singkat tersebut, Penulis dapat menyimpulkan mereka belum pernah membacanya.

Pada pertemuan organisasi/komunitas pemuda yang jumlahnya berkisaran 50-75 orang, hal yang sama Penulis ajukan. Hasilnya tidak jauh berbeda. Mereka juga tidak pernah membaca riwayat hidup Nabi Muhammad Saw. Kecuali tamatan pondok pesantren yang belajar kitab Tarikh (sejarah) Nabi. Seperti  kitab yang dipelajari di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan Kabupaten Padang Pariaman, ada kitab Sirah Nabawiyah Nurul Yaqin.  Kitab ini seringkali dibaca hingga tamat di Pondok Pesantren Nurul Yaqin di antaranya di kelas 5, kelas 7, dan ketika tadarrus di bulan Ramadhan. Kitab Nurul Yaqin atau ahli sejarah Rasul adalah sejarah perjalanan hidup Rasulullah dimulai dari lahir remaja sampai suka duka beliau dalam mengembangkan ajaran Islam.

Dari survey terbatas tersebut, Penulis berkesimpulan semakin sedikit generasi Islam yang membaca buku riwayat Nabi Muhammad Saw. Apalagi menghayati dan memahami dengan benar bagaimana sosok Nabi Muhammad Saw. sesungguhnya. Padahal cukup banyak  buku yang sudah ditulis para penulis  mengisahkan kehidupan Nabi Muhammad Saw. Diantaranya, Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad SAW. karya H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini yang diterbitkan Pustaka Hidayah,  hingga Mei 2009 sudah cetakan ke-XIII. Buku setebal 904 halaman, berisikan 9 bab. Ada lagi, Sejarah Hidup Muhammad, karya Muhammad Husain Haekal, yang diterjemahkan dari Hayat Muhammad (cetakan ke-11 oleh Dr. Muhammad Husain Haekal, Ph.D dengan izin penerbit Dar al-Maaref, 119 Corniche El-Nil, Cairo, Egypt, atas persetujuan ahli waris, Dr. Ahmad Muhammad Husain Haekal. Buku ini cetakan pertama 1972, diterbitkan PT. Tintamas Indonesia, Jakarta. Buku setebal 679 halaman, hingga tahun 1997, sudah mengalami cetakan ke-21.  Selain itu, Sirah Nabawiyah, ditulis Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri yang diterjemahkan Kathur Suhardi, diterbitkan Pustaka Al-Kautsar, dengan 600 halaman. Cetakan pertama 1997, sampai Desember 2018 sudah cetakan kelima puluh dua.

Dua buku pertama, alhamdulillah sudah tuntas Penulis baca. Pada bagian tertentu, malah dibaca ulang. Sedangkan yang terakhir, masih Penulis baca. Dari semua buku tersebut, dengan amat jelas bagaimana sosok  Muhammad Saw. dalam menata kehidupan masyarakat Islam. Bagaimana bersikap kepada alam ini, baik kepada sesama umat Islam, umat manusia yang berbeda agama dan suku di Madinah, maupun kepada binatang sekalipun.  Muhammad Saw. selalu memberikan tauladan, keadilan, kejujuran dan nilai-nilai kemanusiaan yang beradab.  Muhammad Saw. selalu sabar kepada setiap orang. Termasuk orang yang berniat jahat kepada diri beliau.

Tidaklah heran hari ini orang yang mengaku Islam dengan gampang mencelakai orang lain dengan dalih membela agama. Melakukan kekerasan bahkan pembunuhan sesama manusia dengan alasan agama, sudah sering terdengar di berbagai belahan dunia. Bahkan di wilayah yang mengaku rakyatnya beragama Islam pun, tragedi kekerasan dan pembunuhan sering terjadi.

Benarlah apa yang ditulis di cover belakang Sejarah Hidup Muhammad yang ditulis Dr. Haekal. “Tidak mungkin orang dapat mengenal Islam dengan baik, jika tidak mengenal sejarah orang yang membawa Islam itu sendiri.” Sedangkan cover belakang Sirah Nabawiyah menulis, “Perjalanan hidup Rasulullah, adalah lautan yang luas membentang, dengan kebeningan airnya yang kebiruan. Di sana tersimpan pesona alami nan abadi. Tiada mata yang bosan memandang. Tiada hati yang jemu menikmati. Tiada berhenti orang menyelami. Karena sosok beliau, adalah pesona sepanjang masa.”

Ungkapan ini agaknya patut menjadi renungan bagi setiap orang yang mengaku beragama Islam, tapi belum membaca sejarah hidup Nabi Muhammad Saw. yang membawa agama Islam tersebut. Di dunia Islam, sejarah hidup Nabi Muhammad Saw. menjadi bingkai lukisan Islam yang menjadi abadi. Sehingga muncul sekian banyak  buku sirah, tarikh, ghazwah, hingga thabaqat, yang hampir-hampir tak terhitung jumlahnya. Dari tahun ke tahun, dari abad ke abad, dari kurun ke kurun senantiasa ditebari buku-buku baru mengenai riwayat Rasulullah.

Apa pun dan bagaimana pun rona tulisan yang tertuang dalam berbagai buku tersebut, siapa pun penulisnya, dan dari mana pun asalnya, sudah cukup membuktikan bahwa pribadi beliau tak pernah lekang menjadi buah bibir, sorotan pena dan mata. Lautan pribadi beliau tak pernah kering untuk diarungi dan diselami, dari dulu hingga kini dan entah sampai kapan pun selagi tapak-tapak waktu masih terus bergulir dan mengayun. (Sirah Nabaqiyah, 2018:ix)

Agaknya, memasuki tahun 2020 ini sudah saatnya jadi momen mulai menggali sejarah Nabi Muhammad Saw. dengan membaca sejarah riwayat hidup beliau. Kalau pun belum mampu membeli dan memiliki buku tersebut, setidaknya meminjam di perpustakaan yang ada. Baik di perpustakaan daerah, umum, kampus, sekolah atau di kantor desa/nagari/lurah yang memiliki perpustakaan dan menyediakan buku tersebut. Bagi pengelola perpustakaan tersebut, bagaimana mewujudkan diantara deretan buku, terdapat sejarah Nabi Muhammad Saw. Sehingga masyarakat pembaca yang tidak sanggup membeli, bisa membacanya di perpustakaan. Semoga.    (Majalah Tabuik edisi 43/Tahun IX/2019).

Artikel ini telah dibaca 18 kali

Baca Lainnya

Bersiwak (bagian 2); Alat yang Bisa Dipakai untuk Bersiwak

15 Agustus 2022 - 07:00 WIB

Hukum Bersiwak

14 Agustus 2022 - 10:35 WIB

Adab-adab Beristinja (Bagian 2)

13 Agustus 2022 - 07:00 WIB

Adab-adab Istinja

12 Agustus 2022 - 07:07 WIB

Kutbah Jumat: Antara Ghaib dan Nyata

12 Agustus 2022 - 07:00 WIB

Aturan-Aturan Beristinja

11 Agustus 2022 - 07:00 WIB

Trending di Kajian Islam